Thu. Apr 3rd, 2025

Apakah 6 Kebiasaan Sehari-hari ini Merupakan Kunci Ketahanan Spiritual?

Santo Ignatius Loyola

Seseorang tangguh secara spiritual, tidak hanya setia dalam teori, tetapi juga teguh ketika hidup menjadi membingungkan.

Pastor Jesuit, Fr. John O’Brien, percaya bahwa jawabannya terletak pada kesetiaan harian terhadap praktik yang berakar pada spiritualitas St. Ignatius dari Loyola.

Dalam Enam Kebiasaan Harian untuk Ketahanan Spiritual, O’Brien menyaring tradisi Ignatian menjadi enam disiplin yang mudah dipahami, yang dirancang bukan untuk membebani, tetapi untuk menguatkan.

Pada intinya, jalan Ignatian adalah tentang memahami kehadiran Tuhan dalam segala hal, terutama yang biasa. Kebiasaan-kebiasaan ini bukanlah tindakan heroik.

Kebiasaan-kebiasaan ini adalah tindakan perhatian yang tenang, masing-masing merupakan kesempatan untuk mengarahkan jiwa kepada Tuhan di tengah dunia yang terganggu.

1 dan 2: Persembahan pagi, pemeriksaan sore

Kebiasaan pertama dan terakhir — Persembahan Pagi dan Pemeriksaan Sore — mengakhiri hari dengan penyerahan diri dan refleksi.

Hari dimulai bukan dengan mengandalkan diri sendiri, tetapi dengan mempercayakan semuanya kepada Tuhan.

Malam itu tidak berakhir dengan gangguan atau kelelahan, tetapi dalam tinjauan penuh doa yang bertanya: Di manakah Tuhan hari ini? Di manakah saya?

3 dan 4: Kitab Suci, bacaan rohani

Di antaranya ada praktik yang memperdalam pendengaran batin. Berdoa dengan Kitab Suci, khususnya melalui meditasi Ignatian atau lectio divina, menjadi cara untuk memasuki Sabda yang hidup, bukan sebagai informasi, tetapi sebagai hubungan.

Bacaan Rohani melanjutkan dialog itu, membentuk pikiran dalam kebenaran sambil menjaga jiwa agar mudah diajar.

5 dan 6: Keindahan, kasih amal

Kemudian muncul dua kebiasaan yang mungkin paling radikal secara diam-diam: undangan untuk menjumpai sesuatu yang indah setiap hari, dan tantangan untuk melakukan satu kebaikan. Ini bukanlah tambahan opsional.

Bagi Ignatius, keindahan bukanlah hiasan — itu adalah pintu menuju Tuhan. Dan kasih amal bukanlah sebuah konsep, tetapi otot yang harus dilatih setiap hari agar menjadi nyata.

Realistis, bukan fantastis

Metode Pastor O’Brien sangat Ignatian dalam realismenya. Itu tidak mengasumsikan kedamaian tanpa henti atau kejelasan spiritual.

Sebaliknya, ini adalah rencana untuk saat doa terasa kering, saat penghiburan memudar, saat kebijaksanaan menjadi suram.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah alat untuk belajar mengenali gerakan-gerakan batin — yang oleh Ignatius disebut penghiburan dan kehancuran — dan untuk menahan godaan untuk menyerah dalam kebingungan atau ketakutan.

Ini adalah jenis struktur harian yang dibayangkan Ignatius untuk “para kontemplatif dalam tindakan” — orang-orang yang hidup di dunia tetapi berusaha untuk dibentuk oleh kasih karunia.

Ini adalah spiritualitas bukan pelarian, tetapi keterlibatan. Kebiasaan-kebiasaan ini membantu membentuk apa yang disebut Ignatius sebagai ketidakpedulian — bukan apatis, tetapi kebebasan untuk memilih apa pun yang membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan, tanpa melekat.

Bagi mereka yang mencari stabilitas di masa-masa yang tidak pasti, Enam Kebiasaan Harian bukanlah daftar periksa. Ini adalah panggilan yang tenang untuk kedalaman. Sebuah cara untuk bersama Tuhan — secara konsisten, sabar, penuh perhatian. Bukan karena setiap hari akan terasa suci, tetapi karena Tuhan hadir dalam setiap hari, dan praktik-praktik ini mengajarkan kita cara untuk memperhatikan.

Buku karya Pastor O’Brien tersedia gratis secara daring melalui Martyrs Shrine Press di situs web faithfuls-shrine.com/msp. (Sumber: Aleteia.org)

Related Post