
Agustinus Tamo Mbapa atau Gustaf tidak bisa menyembunyikan kesedihannya mendengar Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang Mgr. Petrus Turang meninggal pada 4 April pagi di Jakarta.
Dia lalu mencari informasi tempat jenazah akan disemayamkan. Setelah memastikan bahwa jenazah disemayamkan di Katedral Jakarta, mantan Ketua PMKRI Cabang Kupang itu bersama istri dan kedua putranya bergegas melayat ke Katedral.
Tidak lupa dia membawa selembar kain tenun ikat Sumba untuk ditaruh di atas jenazah atau di atas peti jenazah. Pemberian kain semacam ini bagi orang Sumba sebagai tanda kasih, duka dan penghormatan.
Gustaf meminta Rambu Cathrine untuk membentangkan kain tersebut di atas peti.
Di hati Gustaf, Uskup Turang menempati tempat tersendiri oleh karena cinta dan perhatian yang besar kepada dirinya.
Jelas Gustaf, dia mengenal Uskup Turang ketika masih menjadi mahasiswa di Kupang.
Awal perkenalannya terjadi pada 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Rakyat NTT di Kelurahan Fatululi saat penahbisannya sebagai Uskup Kupang.
Saat itu Gustaf sebagai salah satu anggota panitia penahbisan. Bersamaan dengan itu, Gustaf menjadi Ketua Panitia Masa Penerimaan Anggota Baru PMKRI Cabang Kupang.
Pada kesempatan itu Gustaf dan kawan-kawan melakukan pencarian dana dengan menjual Coca Cola.
Saat menyalami Uskup Turang dan menyampaikan tujuan penjualan minuman Coca Cola, yakni untuk kegiatan MPAB PMKRI, Uskup menepuk bahu Gustaf sambil mengatakan, “Orang muda perlu kerja keras dan jangan malas.”
Saat menjadi ketua PMKRI Cabang Kupang tahun 1999/2000, setiap bulan Gustaf intens mengirim laporan kegiatan PMKRI dan laporan keuangan kepada Uskup Turang sebagai bentuk pertanggungjawab moral.
Atas laporan-laporan tersebut Uskup mengutus Vikjend untuk mengonfirmasi alasan menyampaikan laporan keuangan padahal Keuskupan tidak pernah memberikan bantuan keuangan.
“Ketika bertemu Bapak Uskup saya jelaskan bahwa PMKRI wajib memberikan laporan kegiatan dan laporan keuangan kepada hierarki sebentuk komitmen dan loyalitas sebagai prajurit gereja,” jelas Gustaf.
Atas inisiatif Gustaf memberi laporan tersebut, akhirnya Uskup memberikan perhatian penuh kepada setiap kegiatan PMKRI Cabang Kupang termasuk saat Gustaf mengikuti kegiatan pelatihan Caplain dan Animator di Bangladesh, Dhaka, Desember 1999.
Bahkan jelas Gustaf, almarhum berniat mengirim 10 orang kader PMKRI untuk mengelilingi negara Asia dan Eropa agar tahu perkembangan dunia.
Hal lain yang tak terlupakan untuk Gustaf adalah kesediaan Alm. membiayai studi S-2 Gustaf di UI. “Tahun 2002, tahun penuh rahmat dan berkat berlimpah dari Mgr Petrus Turang. Saat bertemu di penginapan Nusa Lontar, Menteng, saya sedang kesulitan keuangan utk registrasi biaya kuliah S-2. Dalam obrolan berdua, beliau tanyakan perkembangan kegiatan PMKRI pusat dan menanyakan ‘You sedang lakukan apa?'”
Gustaf pun sampaikan bahwa dia berniat kuliah S-2 tapi sedang mencari biaya.
Dalam suasana hening, tanpa banyak bertanya, Uskup Turang sampaikan akan membiayai kuliah Gustaf sampai selesai.
“Air mata saya langsung jatuh merasakan cintanya yang mendalam kepada saya,” ungkap Gustaf terharu.
“You harus tekun belajar, jujur, dan jangan malas,” pesannya kepada Gustaf.
Berhubung pada semester 2 Gustaf mendapat beasiswa dari Ford Foundation, mantan Ketua Umum Pemuda Katolik ini memberitahu Uskup agar menghentikan pengiriman dana dan disalurkan kepada yang lebih membutuhkan.
Uskup Turang pun sangat senang atas kejujuran Gustaf.
Urus pertanian
Pada 15 Oktober 2020 PT. Oat Mitoku Agrio di mana Gustaf merupakan bagian perusahaan, mendapat perhatian besar dari Mgr Petrus Turang, Pr untuk mengadakan demplot penggunaan Atonik di Kebun Keuskupan Agung Kupang di Naibonat Kecamatan Kupang Timur yang diikuti 20 orang PPL dari 15 kabupaten di NTT. “Bapak Uskup sangat senang karena produk Atonik dapat meningkatkan hasil pertanian di NTT,” jelas Gustaf.
Perhatian Uskup Turang tidak berhenti. Pada 27 Agustus 2024, Uskup Turang mengajak Gustaf makan bersama Suryo Susilo, mantan Ketum Pemuda Katolik di sekitar Menteng.
Di saat itu Uskup memberkati Gustaf yang akan berlaga di arena pemilihan bupati Sumba Barat Daya.
Sang Uskup berpesan untuk berjuang dengan bersih dan penuh pertimbangan moral.
“Bila Tuhan perkenankan jadi bupati, urus 4 hal utama, yaitu Air bersih, jalan, listrik dan pertanian,” pesan Uskup yang humoris itu. (tD/EDL)
